Petaka "Hai..."
Sungguh semua hal bisa saja terjadi, waktunya bersandiwara semoga berhasil. (1) Aku menyapa hai… lalu kamu bercerita. Kau bersedih karena kehilangan seseorang yang kau cintai. Kau menangis karenanya. Hari-harimu begitu berat setelahnya. Mencoba menenangkan dengan berbagai kesibukan dan tentu saja lagu adalah senjata ampuh. Begitulah caramu untuk menghapus luka dalam batin. Hari hari kau lalui, beruntungnya kau tetap bisa berdiri. Meski sulit. Itu lah yang dapat kuteladani dari mu. Lalu kau bercerita mengenai perasaanmu ketika kau benar-benar merasakannya. Perasaan sakit yang ada dalam benak. Semangat, oh.. hmmm.. oh ya? dan beberapa pertanyaan yang dapat memicu perbincangan. Kau sedang sangat yakin menumpahkannya, sayangnya wadahku sedang retak. Begitu sulit meminta maaf, tetapi aku yakin kau dalam penyertaan-Nya. Mungkin wadah lain akan siap menampungnya. (2) Hai… Mendengarkan dan memahami. Sepanjang percakapan terasa ...