Berlututlah Sebentar

Banyak hal terjadi setiap hari. Masing-masing memiliki porsinya. Ada sikap yang dapat menjadikannya terasa lebih ringan, dan terasa lebih berat. Sikap itu ditentukan oleh pribadi yang terlatih, yang berpengalaman, yang berserah, yang bersyukur, yang meratap, yang fasik karena memiliki niat tertentu, dan yang lain lain.

Burung-burung bersuara, daun-daun berwarna hijau bergoyang, matahari tertutup awan tebal tampak kurang sempurna. Bunga yang cantik, ikut bergoyang bersama daun. Seorang pria dan wanita sedang menanti datangnya pelanggan. Kendaraan lalu lalang. Cantik sekali. Pohon yang tetap hijau meski terbatas pergerakannya oleh tembok-tembok besar. yang masih tetap menari karena meskipun demikian, ia memiliki teman seperti angin.

Pertemuan. 

Sebagaimana telah disinggung, pertemuan yang berarti akan terkenang sampai nanti. Diduga atau tidak, ternyata pertemuan memberikan pengalaman. Bahwa ketika sesuatu menyenangkan, tersenyum, tertawa, bahkan meneteskan air mata. Selain itu, ketika sesuatu menyedihkan, lamunan, kesendirian, juga menangis. Ketika sesuatu itu mengecewakan, marah, menangis, tersenyum karena kekecewaan tersebut terasa seperti lelucon yang mengerikan. Sampai pada titik tertentu pengalaman juga menyisakan pertanyaan, diawali mengapa, apa, bagaimana.

Bagaimanapun pertemuan bagiku bukan suatu kebetulan. Semua terjadi sesuai porsinya. Akan menjadi sesuatu yang bermanfaat atau justru merobek kelembutan, menyudut pada sisi tergelap. Bersikap! Sampai roda terhenti, sebaiknya pengalaman telah membukakan pikiran. Bagaimanapun debu akan kembali menjadi debu. Terpujilah Sang Mahakuasa dengan segala mahakarya-Nya. Terlebih kesempatan dan penyertaan selama roda berputar.  kenikmatan semu tak berarti, kecuali matahari dan musim semi.

Komentar