"Selamat malam, Malam gelap"

 

    Yang tergelap dari yang tergelap adalah malam sunyi, sunyi sekali sampai kita bisa mendengar detak jantung kita sendiri, setiap detik perpindahan jarum jam dinding, dan saut bersaut angin menuju barat. Semoga menemukan terang. Pada waktu-Nya. Persiapkan diri! kalau-kalau terang itu datang, tak membutakan mata.

Suatu percakapan

Suara : “Malam ini terasa panjang, dan gelap sekali. Bukankah ini menakutkan?”

Suara : hela nafas “ baik, semoga ini baik. Aku berharap segala sesuatu itu baik.”

Suara : “Mengapa tidak membuka mata, dan berjalan? Bahkan dalam kegelapan apakah tidak ada yang bisa dilakukan?”

    Hela nafas. Terdiam. Tiba-tiba air menetes dari mata membasahi pipi.

Suara : “Sesakpun hati, apalah artinya?”

Suara : “Aku harus berdiri. Didepan mungkin ada batu, atau kaca, atau ranting tajam. Ya, berjalan saja. toh sudah terlanjur terluka, maka lanjutlah berjalan, aku sudah sampai sejauh ini.”

Suara : “oh tidak, lylia.. apakah gadis itu telah menemukan palu untuk merobohkan tembok besar itu dan melewatinya? evelyn riche, pasti ia sedang sangat ketakutan berada di ruang sempit itu. George yang malang” (senyum tipis) “ya, sepertinya aku tak perlu khawatir tentang lelaki itu. Ia tidak takut pada apapun. Ia pasti akan baik baik saja.”

    Sedang malam semakin dingin, terangpun terasa jauh dan mustahil nampak. Dingin... semakin dingin, menusuk tulang kaki. Sakit sekali.

Suara : “Ck... sudah semestinya kau sadar kalau ini tidak akan berhasil. Menyerahlah. Sadari tempatmu saat ini.”

Suara : “Benar! dimanakah aku saat ini?” mengerutkan dahi

Suara : “Apakah yang kamu takutkan saat ini?”

Suara : “Tak ada yang tahu, tidak kecuali kita. Mengapa begitu berat untuk mengakui padahal kita sudah tahu sendiri. Lalu sebenarnya, apakah yang kamu takutkan?”

Suara : ......

Suara : “Apakah yang kamu takutkan?”

 

Hening.


Suara : “ Apakah yang kamu takutkan?” 


Bergumam.


Suara : “Kamu tak akan bisa! Apapun yang kamu lakukan tak akan berhasil” (dahinya semakin mengkerut gelisah)

Suara : “Apakah yang kamu takutkan?”

Suara : “Bahkan kamu tidak mengetahui dimana kamu berada saat ini!”

Suara : “Apakah yang kamu takutkan?”

     ia tertekan, gelisah, dahinya semakin mengkerut.

Suara : “Diamlah!Buka matamu! ini buruk sekali. Ada jalan keluar pada setiap situasi! Tegak! tegakkan kepalamu saat ini juga! akan ada terang disana, atau disana, tetapi bukalah mata terlebih dahulu, angkat kaki dan mulai berjalan! Kakimu masih cukup kuat un...” belum sempat berbicara kemudian

Suara : “Apakah yang kamu takutkan?”

Suara : “ Apakah yang kam..." 

Suara : “Sendirian." (dengan suara yang lemah. kemudian Hening. lalu ia meneteskan air mata.)

Suara : (suaranya lebih besar, dan kemudian lebih besar lagi pada setiap kata yang ia ucapkan) “Ditinggalkan! Tak diinginkan! menjadi lemah dan tak berdaya! Menjadi lemah dan tak bermanfaat!  Menjadi lemah dan tak..”

    Tak mampu melanjutkan, ia pun menangis terisak. Suara tangisnya terdengar begitu jelas. Sebab malam ini begitu hening. Sebab malam ini begitu panjang dan gelap. Sebab malam ini begitu melelahkan dan tak terkendali. Sebab malam ini mengerikan. Sebab kakinya patah, tangannya terluka, hidungnya berdarah. Sebab ia menyadari dirinya lemah! Sebab ia menyadari dirinya sangat kecil, begitu kecil. Sementara ia menangis, tiba-tiba ada sebuah Terang muncul! Terang itu begitu menyilaukan. Terang itu datang dari ujung timur dan begerak semakin dekat. semakin dekat dan begitu menyilaukan. Ia tetap menutup mata dan tangisnya pun reda. Tetapi terang itu begitu silau menembus kelopak matanya yang tertutup. Terang itu kemudian masuk kedalam dadanya. Menembus tulang rusuk dan kemudian menetap di dalamnya. Menyadari kalau terang itu tidak lagi menyilaukan matanya, ia kemudian membuka mata. 

    Menarik nafas perlahan, buang nafas perlahan. Tarik nafas, buang nafas. Ia menikmati setiap  nafas yang dihirup dan dibuang. Kali ini ia menarik nafas sembari membuka mulutnya sedikit, kemudian menghela nafasnya. Hela nafas yang menandakan kelegaan. Ia terdiam. Menatap lurus kedepan. beberapa kali ia berkedip. Ia menikmati setiap hembusan nafasnya. Kemudian ia tersenyum dan berkata

“ Selamat malam, Malam gelap. Sampai bertemu kembali.”

Kemudian ia beranjak dari kursinya, lalu pergi meninggalkan ruangan itu.

 

 

Pelita diletakan diatas kaki dian,

sehingga menerangi semua orang didalam rumah.


salam kasih.

Komentar