Ruang
Kalau banyak orang bilang leburnya sebuah benteng diawali dengan interaksi. Interaksi yang pertama, atau yang kedua dan seterusnya. Terlepas dengan siapa dan bagaimana hasil interaksinya, namun yang terpenting adalah adanya sebuah ruang.
Mari bicara mengenai ruang.
kita setuju kalau setiap harinya bagian dari tubuh dan jiwa kita berperang. Berperang melawan arus keserupaan atau tantangan menjadi yang terasing. Hal-hal ini diturunkan dalam bentuk-bentuk tak kasat namun ternyata merusak. Salah satu tandanya adalah saat diri tak lagi bisa merasa atau setiap suara serasa dengung dan terdengar seperti gumam. Pada beberapa fakta empiris hal ini juga ditandai dengan mata sayup saat melihat keindahan.
Akhirnya tak ada yang menyenangkan.
Syukur-syukur kalau masih ada tubuh yang bergerak, karena terang harapan dalam hati masih bekerja sekalipun yang lain telah rebah atau telah menjadi zombie. Sekedar informasi, populasi zombie saat ini bertambah pesat. Aku menyarankan kamu untuk sesekali pergi ke stasiun Manggarai pada pagi atau sore hari.
Ruang.
Karena itulah kita membutuhkan ruang.
Ruang untuk menjadi konyol, karena kekonyolan tidak diterima saat berperang,
Ruang untuk menjadi lemah, karena segala amunisi telah dikerahkan untuk memenangkan peperangan hari ini.
Ruang untuk menyusun strategi, barangkali peperangan besar akan terjadi suatu saat nanti.
Ruang yang hangat, untuk berbagi dan menerima kasih,
dan ruang untuk mensyukuri kalau setiap kita adalah pemenang diwaktu-waktu yang telah berlalu.
Pada akhirnya aku tidak menjadi zombie, aku pun tidak melawan zombie. Zombie-zombie saat ini cenderung apatis, atau narsis. Tenang saja, sebenarnya zombie tidak abadi, kalau saja zombie telah bertemu dengan ruang. Ruangnya sendiri.
Terima kasih
untuk setiap unit yang terkait dalam aktualisasi diri,
dan terutama untuk ruang.
Semoga kamu segera menemukan ruang sebelum aku mendapati kamu di stasiun Manggarai.
Salam Kasih
Megijettt
hi!
BalasHapus