Alkisah Anak Pengembara

Setiap kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan adalah masalah. Dan bagi beberapa orang yang tak berpengalaman adalah bencana besar. Kakek sering menyebutnya dengan istilah ombak dan badai.

Suatu hari, adalah seorang anak pengembara. Ia hidup di pesisir pantai Selatan kota Anggun. Dahulu, Ayah dan Ibunya adalah pengembara sejati. Anak pengembara hobi menguji diri. Saat pasang tiba, ia akan berlayar dan mencari pulau tak berpenghuni lalu berlabuh. Ia memiliki waktu sendiri untuk menyusuri keadaan pulau tersebut dan menemukan celah keuntungan yang membuat kaumnya berpindah dan menempati pulau-pulau tersebut. Sebenarnya mereka berasal dari utara, lahir dan besar di Utara. Hanya saja apa yang dilakukan anak pengembara adalah bagian dari tradisi kaumnya. Hal ini dilakukan untuk memperluas garis keturunan dan daerah kekuasaan. 

Bagi para pengembara ombak adalah tantangan. Tetapi ombak disertai badai adalah kesialan. 

Kesialan itu pasti ada. Waktunya tak dapat diprediksi. Agak sulit jika meneliti pola dari kesialan. Tetapi jika kamu punya waktu untuk meneliti sekiranya kapan, dan dari mana datangnya kesialan itu, silakan saja. Kakek pernah berkata yang perlu dilakukan anak pengembara adalah bersiap. 

Ayah dan Ibu kalah dalam kesialan. Perahu-perahu yang dulu diceritakan oleh Kakek tersimpan di Goa Pulau Selatan. Ayah, Ibu dan anak pengembara kini tinggal di pusat kota. Seiring berjalannya waktu, anak pengembara menemukan kenyamanan hidup di darat. Di darat, anak pengembara dapat menemukan apa saja yang ada di laut. Namun tidak demikian halnya dengan laut. Laut tak menyediakan berbagai hal yang ada di darat. Terlepas dari itu semua, laut memberikan pelajaran kepada anak pengembara tentang kemampuan beradaptasi. Tak disangka, anak pengembara memiliki banyak sekali teman. Ia sama sekali tak asing dengan kehidupan di darat.  Nampaknya tak ada yang perlu di khawatirkan tentang anak pengembara. 

Komentar