Riuh

 Apakah itu, yang selalu dinantikan anak kecil, untuk menemani tidur lelapnya.

Ya. Sinar Bulan dan Bintang.


Malam ini angin menyampaikan pesan, kasat. 

Sinar menunjukkan langkah, buram.

Tetapi anak pengembara bertanya arah pada Matahari.

Maka malam ini, anak pengembara memutuskan untuk berbaring, kemudian menutup mata. Menanti kedatangan Matahari.

Dalam penantian, anak pengembara gelisah.

Mata terpejam.  Namun telinga terjaga, mengamati setiap suara.

Sesekali ia mengerutkan dahi dalam keadaan mata terpejam, ketika yang terdengar bukanlah suara ayam berkokok. Melainkan suara detik jam

Tik... Tik.. Tik...

Dalam hati ia berhitung 1...2...3...4...5...6...


Namun ia terganggu dengan riuh angin di luar, suaranya semakin keras, dan jelas... 

Angin membuat pepohonan turut berseru...

Mengangkat genteng rumahnya

Mendobrak jendela kamarnya

dan merobohkan segala upaya cuek anak pengembara.

Karenanya Anak Pengembara merasa kesal. Bukan kesal, melainkan sangat kesal. 

Lalu dihampirinya angin yang ada di halaman belakang rumahnya. 

"Apakah gerangan yang hendak kau katakan?" teriak Anak pengembara.

Akhirnya, Anak Pengembara berhadapan dengan angin, tepat di halaman belakang rumahnya.

Terhibur akan kehadiran Anak Pengembara, Angin mengarahkan kekuatannya ke pepohonan yang menyebabkan pepohonan di sekitarnya berayun-ayun.

Tentu suasana hati Anak Pengembara menjadi gaduh

Kegaduhan yang dinantikan Angin

Kekesalannya kini berubah menjadi amarah 

Anak Pengembara hilang kendali, ia berlari mengikuti setiap pergerakan angin, 

Tanpa alas kaki, ia berlari ke arah hutan..

Tak pernah sebelumnya anak pengembara terlihat begitu marah hingga ia mengambaikan kaki dan tangannya yang tergores batang-batang pohon,

Tampak bengis wajah Anak Pengembara, seperti singa yang lapar, dan sama sekali tak berniat kehilangan mangsanya

Bahkan setelah beberapa kali kakinya terantuk akar pohon, ia tetap berlari mengejar buruannya. 

Ia berlari sampai ke dalam hutan, gelap sekali, hanya garis lurus cahaya bulanlah yang menuntunnya untuk mengikuti arah angin.

Lalu samar-samar ia melihat pantulan sinar di ujung

Semakin dekat, dan semakin dekat..

Pantulan sinar itu mengalihkan perhatiannya pada angin. Sebab saat itu hanya pantulan sinar itulah yang dapat terlihat.

Perlahan ia mengurangi kecepatannya

Ia tak memahami apa yang terjadi, 

Satu-satunya alasan ia berlari semakin pelan adalah ketampakan pantulan cahaya itu. Ia terpesona!

Pelan... pelan... Dan kemudian ia berjalan. 

Ia berjalan mendekati pantulan sinar itu

Pantulan sinar bulan dari danau Natu

Sekarang ia bisa melihat Angin mengarah ke tengah danau

Namun, pergerakan angin tidak lagi penting baginya.

Anak pengembara terdiam menyaksikan keindahan ketampakan tersebut. Ia tak sadar secara spontan ia merespon dengan tetes air mata

Lalu angin menjemput beberapa daun yang terjatuh ke hadapan Anak Pengembara

Kunang-kunang berdatangan dan menari bersama angin di dekat tepian danau,

Masih dalam keadaan terharu, Anak pengambara menundukkan kepalanya, dan memberi salam kepada Angin, dan juga kunang-kunang yang menyala indah sekali.

Angin mengajaknya menari, berputar bersama daun-daun, dan kunang-kunang di bawah sinar bulan

Mereka menikmati suasana tersebut, seperti sedang merayakan suatu kemenangan besar

Setelah beberapa waktu, Anak Pengembara mengamati pemandangan ini, ia tersenyum, kemudian menundukkan kepala, memberi salam pamit kepada kunang-kunang, Angin, dan juga Bulan. 

Sebelum meninggalkan tepi danau, Anak pengembara Menghirup napas, kemudian menghembuskanya secara perlahan. Memotret momen itu di dalam pikirannya. 

Anak pengembara pun kembali ke rumahnya dengan kedamaian.

Kedamaian dengan isi kepalanya, dan isi hatinya.

 

Salam kasih,

Megijettt

Komentar