Selamat, semangat!

Menjalani hidup sampai pada tahun ke 25, berharap kematangan untuk dapat menjadi sukses. Entah dalam pekerjaan, atau dalam kematangan berhubungan dengan orang lain, atau kematangan dalam memahami situasi, pengendalian diri, dan keimanan. ekspektasi umum untuk manusia berusia 25 tahun. 
Tetapi 25 tahun bagi saya, saya pun ragu dengan pemikiran saya sendiri mengenai usia ini. 
Sejujurnya, ekpektasi umum itu juga ada dalam benak saya, hanya saja kenyataan yang dihadapi bertolak belakang dengan ekspektasi tersebut.
25 tahun saya berharap sudah memiliki banyak pengalaman, lulus dari berbagai ujian kehidupan, sehingga di usia ini saya sudah berada, atau bahkan lebih dari ekspektasi umum.  Di usia 25, saya belum mendapatkan pekerjaan tetap. Di usia 25, saya belum pernah menjalin hubungan romantis, dan di usia 25 saya masih bergantung pada keadaan di luar diri saya. 

Usia 25.
belum ada pencapaian yang saya dapatkan di usia 25, sebagaimana yang saya ekspektasikan. Memang, ada hasrat yang begitu dalam melihat kesenjangan, terutama pada orang yang termarjinalisasi, anak-anak yang tidak memiliki akses menempuh pendidikan, bahkan tidak mendapatka sumber pengetahuan. Saya ingin mengubah keadaan mengerikan tersebut di atas. 
ini gambaran yang dapat saya sampaikan jika anda bertanya mengenai mimpi.  tetapi langkah dan tindakan saya belum mampu meyakinkan itu akan menjadi kenyataan.  Saya menganggap bahwa kenyataan hidup saya bagaikan air yang mengalir  sebagaimana Pencipta menempatkan saya pada suatu aliran sungai. Ada kondisi dimana air berhenti di arena yang tenang. Nikmat dan damai sekali sampai seekor monyet duduk di pinggir sungai sambil melihat bayangannya. Saya kira kedamaian ini selamanya, tak terduga kapan datangnya hujan, badai, atau malapetaka lainnya. Apalagi pada saat matahari sedang berada di panggung, dan bersinar terang sampai menyurutkan kedamaian. Atau gangguan warga desa yang mencemarkan kedamaian air sungai. bagaimanapun, itu semua akan memberikan pelajaran bagi saya, maka dari itu sejujurnya terkadang saya menantikan hal tersebut terjadi. Tetapi saya sadari, dalam perkara kecil saya sering kalah, itulah gambaran mengenai pertempuran saya hingga selama 25 tahun. 
Maka saya menamai diri saya sebagai si kosong pengecut. 
bukan tentang amunisi, tetapi memang saya yang menahan diri saya untuk melangkah kepada yang saya yakini sebagai hasrat. Mengapa itu bisa terjadi. saya dapat sampaikan karena kejahatan yang saya lakukan pada diri saya sendiri. 
Keangkuhan, Ketidakpatuhan, Ketidaktahudiri. Kejahatan besar, sayalah pelaku utamanya. Kejahatan ini membuat saya bimbang akan tujuan aliran sungai, apakah memberi kehidupan bagi tumbuhan di tepian, atau kering dan tercemar? 


Melihat banyak orang bisa mencapai apa yang ia inginkan, terlepas dari berbagai perasaan saat mereka sudah berada di titiknya. Saya menatap, mengangguk, memuji, tetapi dalam hati saya tahu itu tak akan terjadi pada saya.  Saya pun tak ingin membalik sikap saya selama 25 tahun itu menjadi lebih baik dalam waktu seketika.  Tetapi, terlalu dini jika menetapkan sikap absolut, dan menolak kemungkinan. 
memang kepastian itu memberi untung, membangkitkan semangat untuk mencapai tujuan.
Membosankan. Membosankan bukan jika sebuah petualangan sudah diketahui alurnya sebelum kita menjalani dan mengakhirinya. 

25 tahun yang tidak sesuai ekspektasi saya dan khalayak umum, bukan berarti adalah keseluruhan dari hidup saya. dan pada kesempatan ini, tak banyak yang saya ekspektasikan, tetapi saya menetapkan keyakinan bahwa saya masih punya kesempatan. dan masih diberi kesempatan. dan masih harus melanjutkan petualangan saya. Mengapa? ketahuilah saya bukan orang yang membosankan. dan daya kreativitas saya tak akan putus pada perjalanan hidup di tahun ke 25. 

omong kosong yang saya sering sampaikan, bak pedang bermata dua, menggores luka, atau menyenangkan telinga. 
Tetapi sekali lagi, yang terdengar menyenangkan adalah sebuah kebenaran dari kenyataan yang kita hadapi. dan akan melegakan jika dalam setiap petualangan itu, saya dan kita menyadari, mengakui, dan percaya bahwa tak pernah sekalipun kita sendiri. Beliau selalu ada, melihat, dan mendengar, dan mengetahui, dan tersenyum, dan sabar dan marah, dan memaafkan, dan tegas, dan memeluk dan mengasihi sebesar-besarnya. 

itu lah yang ingin saya lakukan di petualangan saya selanjutnya. Mencari kebenaran, memahami, dan mengasihi-Nya. 
Memuji kebesaran-Nya. Keindahan dari kasih-Nya yang sama sekali tidak masuk dalam akal saya yang sederhana ini. 
Saat ini pun saya meyakini bahwa Ia ada. 

Dan Karenanya saya bersyukur kepada-Nya, atas segalanya sampai tahun ke 25 ini. 

salam kasih,
megijettt

Komentar