Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2022

Riuh

 Apakah itu, yang selalu dinantikan anak kecil, untuk menemani tidur lelapnya. Ya. Sinar Bulan dan Bintang. Malam ini angin menyampaikan pesan, kasat.  Sinar menunjukkan langkah, buram. Tetapi anak pengembara bertanya arah pada Matahari. Maka malam ini, anak pengembara memutuskan untuk berbaring, kemudian menutup mata. Menanti kedatangan Matahari. Dalam penantian, anak pengembara gelisah. Mata terpejam.  Namun telinga terjaga, mengamati setiap suara. Sesekali ia mengerutkan dahi dalam keadaan mata terpejam, ketika yang terdengar bukanlah suara ayam berkokok. Melainkan suara detik jam Tik... Tik.. Tik... Dalam hati ia berhitung 1...2...3...4...5...6... Namun ia terganggu dengan riuh angin di luar, suaranya semakin keras, dan jelas...  Angin membuat pepohonan turut berseru... Mengangkat genteng rumahnya Mendobrak jendela kamarnya dan merobohkan segala upaya cuek anak pengembara. Karenanya Anak Pengembara merasa kesal. Bukan kesal, melainkan sangat kesal.  Lalu dih...

Pasca Ombak Sedang

Tak akan ada ombak yang tak dapat dikuasai.  Itu yang laut ajarkan pada anak pengembara.  Pun di darat, ombak tak akan bertahan lama. Suatu hari, air menggenang di kaki anak pengembara.  Sudah terdengar gemuruhnya, sepertinya ombak sedang. Namun, ombak sedang ini datang dari arena yang sama sekali tak dikuasainya.  Bahkan lautpun tak pernah memunculkan ombak seperti ini. Anak pengembara terlihat lusuh, dan perlahan kehilangan daya. Ia mencari alat di tengah ombak yang menghadang. Anak pengembara kesulitan sekali.  Lalu ia mencari bala bantuan.  Lebih tepatnya hiburan. Ia pergi ke akuarium yang ia sebut akuarium magnet. Tempat ia melihat ikan hitam kesukaanya (saat ini ikan tersebut sudah mulai memunculkan warnanya) Ia berharap ikan itu dapat mengurangi gemuruh ombak.  Ini hari terkahir ia berharap ikan hitam datang. Belakangan ikan hitam jarang muncul. Anak pengembara berdoa kepada Bintang Timur,  Ia memohon agar dapat melihat ikan hitam sebelum m...

Alkisah Anak Pengembara

Setiap kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan adalah masalah. Dan bagi beberapa orang yang tak berpengalaman adalah bencana besar. Kakek sering menyebutnya dengan istilah ombak dan badai. Suatu hari, adalah seorang anak pengembara. Ia hidup di pesisir pantai Selatan kota Anggun. Dahulu, Ayah dan Ibunya adalah pengembara sejati. Anak pengembara hobi menguji diri. Saat pasang tiba, ia akan berlayar dan mencari pulau tak berpenghuni lalu berlabuh. Ia memiliki waktu sendiri untuk menyusuri keadaan pulau tersebut dan menemukan celah keuntungan yang membuat kaumnya berpindah dan menempati pulau-pulau tersebut. Sebenarnya mereka berasal dari utara, lahir dan besar di Utara. Hanya saja apa yang dilakukan anak pengembara adalah bagian dari tradisi kaumnya. Hal ini dilakukan untuk memperluas garis keturunan dan daerah kekuasaan.  Bagi para pengembara ombak adalah tantangan. Tetapi ombak disertai badai adalah kesialan.  Kesialan itu pasti ada. Waktunya tak dapat diprediksi. Agak suli...

Keresahan anak pengembara

 Aku tak berpikir apa-apa.  Aku juga tak tahu harus berpikir apa.  Aku tak tahu harus melakukan apa.  Dan aku tak tahu kenapa.  Aku tak tahu mau apa.  Aku tak tahu harus mulai dari mana.  Aku tak tahu ada apa.  Aku tak tahu~